Lost in Bali - Day 7
Menikmati perjalanan dari Villa Aileen Canggu menuju Cemagi Beach, menyaksikan sunset yang memukau, jalan santai di Beachwalk Kuta, hingga menutup hari dengan nasi goreng yang menggagalkan program diet.
BALI
6/28/20263 min baca


Lost in Bali – Day 7: Senja yang Menghipnotis di Cemagi Beach, Ditutup Nasi Goreng Tengah Malam
Hari ketujuh kami di Bali menjadi salah satu hari yang paling santai sekaligus paling berkesan. Tidak ada jadwal yang padat, tidak ada target mengunjungi banyak destinasi. Hari ini hanya tentang menikmati perjalanan, mengejar matahari terbenam, dan menghabiskan malam dengan cara yang sederhana namun membahagiakan.
Berangkat Santai dari Villa Aileen Canggu
Menjelang sore, kami meninggalkan Villa Aileen di kawasan Canggu dengan mengendarai sepeda motor menuju Cemagi Beach. Perjalanan menuju pantai terasa begitu menyenangkan. Jalanan yang kami lewati dipenuhi hamparan sawah hijau, pepohonan rindang, serta suasana pedesaan khas Bali yang masih sangat asri.
Udara sore yang sejuk berpadu dengan angin yang menerpa sepanjang perjalanan membuat setiap kilometer terasa seperti bagian dari liburan itu sendiri. Tidak ada rasa terburu-buru. Kami hanya mengikuti jalan, menikmati pemandangan, dan sesekali memperlambat laju motor untuk mengagumi keindahan di sekitar.
Terkadang, perjalanan menuju sebuah tempat justru menjadi pengalaman yang sama indahnya dengan destinasi yang dituju.
Menikmati Sore di Kafe Pinggir Laut
Sesampainya di Cemagi Beach, kami memilih sebuah kafe yang berada tepat di tepi laut. Dari tempat duduk kami, suara deburan ombak terdengar jelas berpadu dengan semilir angin pantai yang membuat suasana begitu menenangkan.
Sambil menikmati hidangan dan minuman, kami menyaksikan matahari yang perlahan mulai turun ke ufuk barat. Langit mulai berubah warna, dari biru cerah menjadi perpaduan jingga, kuning keemasan, merah muda, hingga ungu yang begitu lembut.
Momen seperti ini membuat waktu terasa berjalan lebih lambat. Tidak banyak percakapan yang diperlukan. Keindahan alam sudah cukup menjadi hiburan terbaik.
Sunset yang Sulit Dilupakan
Setelah selesai makan, kami berjalan menuju bibir pantai untuk mendapatkan pemandangan yang lebih dekat. Pasir hitam khas Cemagi Beach berpadu dengan ombak yang terus datang silih berganti, menciptakan suasana yang dramatis namun damai.
Kami mengabadikan banyak momen ketika matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala. Setiap menit langit terus berubah warna, menghadirkan gradasi yang begitu memukau.
Ada sesuatu yang selalu membuat sunset di Bali terasa berbeda. Bukan hanya karena mataharinya yang indah, tetapi karena suasananya mampu membuat siapa pun berhenti sejenak dan benar-benar menikmati apa yang ada di depan mata.
Langit sore itu benar-benar menghipnotis. Sulit rasanya mengalihkan pandangan sebelum matahari benar-benar menghilang.
Malam Berlanjut ke Beachwalk Kuta
Meski matahari sudah terbenam, hari kami belum berakhir. Dari Cemagi Beach kami melanjutkan perjalanan menuju Beachwalk Shopping Center di Kuta.
Suasana malam di kawasan Kuta selalu memiliki energi yang berbeda. Ramai, hidup, dan penuh wisatawan dari berbagai negara. Kami berjalan santai mengelilingi pusat perbelanjaan tanpa tujuan khusus, hanya menikmati suasana malam sambil melihat-lihat berbagai toko.
Di tengah perjalanan, kami berhenti sejenak untuk menikmati segelas soft drink dan satu cup gelato yang menjadi teman sempurna setelah sore yang hangat di pantai.
Bertemu Lagi dengan Parfum Favorit
Salah satu tujuan kami datang ke Beachwalk sebenarnya cukup sederhana, yaitu membeli parfum favorit kami, Gritti Rialto.
Sayangnya, ada sedikit kejutan. Harga parfum tersebut ternyata sudah naik dibandingkan saat kami membelinya beberapa waktu lalu di CNF. Meski demikian, rasa suka terhadap aromanya tetap membuat kami memutuskan untuk membawanya pulang.
Kadang memang begitu. Ada beberapa hal yang tetap layak dibeli meski harganya sudah tidak lagi sama.
Diet yang Kembali Gagal
Setelah puas berjalan-jalan, kami kembali menuju Villa Aileen. Sesampainya di vila, rencana untuk langsung beristirahat ternyata berubah total.
Perut yang sejak tadi malam mulai terasa lapar akhirnya menang. Tanpa pikir panjang, kami membuka aplikasi pesan makanan daring dan memilih menu yang paling aman sekaligus paling menggoda: nasi goreng.
Seketika semua niat diet yang sempat dibangun kembali runtuh begitu saja.
Beberapa menit kemudian, pesanan datang. Aroma nasi goreng yang hangat benar-benar sulit ditolak. Dalam waktu singkat, piring pun bersih tanpa sisa.
Perut kenyang, badan lelah, mata mulai berat.
Dan seperti yang sudah bisa ditebak...
Tidak lama setelah makan, kami langsung tertidur pulas.
Entah bagaimana nasib program diet setelah makan kenyang lalu langsung tidur. Mungkin itu adalah masalah yang akan dipikirkan besok. Malam ini, yang terpenting hanyalah menikmati akhir hari yang sempurna setelah menyaksikan salah satu sunset terbaik selama perjalanan Lost in Bali.
Penutup
Hari ketujuh mengajarkan kami bahwa liburan tidak selalu harus diisi dengan berpindah dari satu tempat wisata ke tempat lainnya. Terkadang, satu sore yang dihabiskan menikmati sunset, perjalanan motor melewati pedesaan, berjalan santai di pusat perbelanjaan, dan menutup hari dengan sepiring nasi goreng sudah cukup menciptakan kenangan yang akan selalu dikenang.
Karena pada akhirnya, perjalanan terbaik bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi juga tentang bagaimana setiap momen kecil mampu menghadirkan rasa syukur dan kebahagiaan.









