Lost in Bali - Day 8

Menikmati hari produktif di Villa Aileen, mencicipi ayam kare buatan istri, lalu berburu sunset di The Beach Love, hidden gem Tabanan dengan panorama senja yang memukau dan pemandangan laut terbaik di Bali.

BALI

6/29/20264 min baca

Lost in Bali – Day 8: Menikmati Sunset di The Beach Love, Hidden Gem dengan Panorama Senja Terbaik di Tabanan

Ada hari ketika perjalanan dipenuhi oleh destinasi yang ramai dan aktivitas yang padat. Namun ada juga hari ketika kebahagiaan datang dari hal-hal sederhana; menikmati masakan rumahan, menyelesaikan pekerjaan dengan tenang, lalu menutup hari dengan menyaksikan matahari terbenam di tempat yang begitu indah. Hari kedelapan kami di Bali adalah salah satu hari yang seperti itu.

Pagi yang Produktif di Villa Aileen

Pagi dimulai dengan aroma sarapan hangat yang sudah disiapkan oleh istri. Rasanya selalu berbeda ketika menikmati masakan rumah, apalagi di tempat yang suasananya setenang Villa Aileen. Sarapan sederhana terasa begitu istimewa karena dinikmati tanpa terburu-buru.

Setelah sarapan, kami menyempatkan diri berolahraga ringan di area vila. Gerakan-gerakan sederhana sudah cukup membuat tubuh kembali segar sebelum memulai aktivitas.

Seperti hari-hari sebelumnya, sebagian besar waktu pagi hingga siang kami habiskan untuk tetap produktif. Beberapa artikel baru untuk website Explorasi Negeri mulai diselesaikan, sementara beberapa video perjalanan juga kami edit untuk dibagikan ke media sosial. Rasanya menyenangkan ketika perjalanan ini bukan hanya menjadi momen berlibur, tetapi juga menjadi sumber cerita yang bisa dibagikan kepada banyak orang.

Makan Siang Spesial: Ayam Kare Buatan Istri

Menjelang siang, aroma rempah kembali memenuhi dapur vila. Kali ini menu spesialnya adalah ayam kare buatan istri.

Kuahnya begitu kaya akan rempah. Gurih, hangat, dan memiliki cita rasa yang dalam di setiap suapan. Ayamnya empuk, sementara bumbu karenya benar-benar meresap hingga ke dalam.

Rencana awal sebenarnya hanya ingin makan secukupnya. Namun setelah suapan pertama, semua rencana itu berubah.

Satu piring nasi ternyata tidak cukup.

Kami pun menambah sepiring nasi lagi demi menikmati setiap tetes kuah kare yang begitu nikmat. Mungkin memang beginilah risiko ketika tinggal bersama seseorang yang pandai memasak—program menjaga porsi makan sering kali kalah oleh rasa yang terlalu menggoda.

Sebagai penutup makan siang, kami menikmati potongan buah segar yang memang selalu kami siapkan selama tinggal di Bali. Sederhana, tetapi menjadi penyegar yang sempurna setelah hidangan penuh rempah.

Berburu Sunset ke Hidden Gem Tabanan

Sejak sehari sebelumnya, kami sudah merencanakan untuk berburu sunset di salah satu tempat yang cukup sering direkomendasikan para pemburu senja di Bali, yaitu The Beach Love di daerah Tabanan.

Menjelang sore, kami segera bersiap dan berangkat dari vila menggunakan sepeda motor.

Perjalanan menuju Tabanan menjadi pengalaman yang tidak kalah indah dibandingkan destinasinya sendiri. Jalan-jalan pedesaan yang tenang, hamparan sawah hijau yang membentang luas, serta udara segar khas pedesaan Bali membuat perjalanan terasa begitu menyenangkan.

Kami sengaja tidak terburu-buru. Sesekali memperlambat laju motor hanya untuk menikmati pemandangan yang mungkin tidak akan kami temui di kota besar.

Semakin mendekati lokasi, panorama mulai berubah. Dari kejauhan, hamparan laut mulai terlihat menghiasi cakrawala. Jalan menuju The Beach Love juga masih sangat alami, dipenuhi pepohonan dan lanskap hijau yang membuat rasa penasaran semakin besar.

The Beach Love, Salah Satu Spot Sunset Terbaik di Bali

The Beach Love bukan sekadar kafe dengan pemandangan laut. Tempat ini menawarkan pengalaman menikmati senja dari atas tebing yang langsung menghadap Samudra Hindia.

Konsepnya sederhana namun begitu memikat. Area duduk dibuat bertingkat mengikuti kontur bukit sehingga hampir setiap pengunjung dapat menikmati panorama laut tanpa banyak terhalang.

Perpaduan hamparan rumput hijau, angin laut yang sejuk, suara deburan ombak dari bawah tebing, dan langit yang perlahan berubah warna menjadikan tempat ini layak disebut sebagai salah satu hidden gem terbaik di kawasan Tabanan.

Begitu tiba, kami langsung memilih tempat duduk di area paling atas. Dari titik tersebut, pemandangan terbuka sepenuhnya ke arah laut lepas. Rasanya seperti memiliki kursi VIP untuk menyaksikan pertunjukan alam terbaik sore itu.

Menunggu Matahari Turun

Sambil menunggu matahari mulai turun, kami memesan beberapa camilan dan minuman untuk menemani sore.

Menu yang kami pilih cukup sederhana tetapi sangat pas dinikmati di udara pantai:

  • Kentang goreng

  • Sosis panggang

  • Spring roll

  • Air kelapa muda utuh

  • Ice lemon tea

  • Vanilla milkshake

Dengan semilir angin yang terus berembus dan suara ombak di kejauhan, sore itu terasa berjalan begitu pelan. Tidak ada yang perlu dikejar. Kami hanya duduk, menikmati makanan, mengobrol, dan sesekali memandang ke arah cakrawala.

Drama Baterai Kamera yang Terlupakan

Karena sudah merencanakan momen ini sehari sebelumnya, saya membawa perlengkapan dokumentasi lengkap.

Tripod, kamera, dan ponsel sudah saya siapkan sejak matahari masih cukup tinggi. Semua pengaturan kamera selesai dilakukan. Komposisi gambar sudah pas. Tinggal menunggu matahari perlahan turun.

Namun...

Sebuah kesalahan kecil yang cukup fatal akhirnya terjadi.

Saya lupa mengisi daya baterai kamera sebelum berangkat, dan yang lebih parah lagi, baterai cadangan tertinggal di vila.

Begitu tombol shutter ditekan untuk mengambil foto pertama...

Klik.

Kamera langsung mati.

Tidak ada kesempatan kedua.

Saya hanya bisa tersenyum pasrah sambil berkata dalam hati, "Ya sudah, mungkin memang hari ini kamera handphone yang bertugas."

Untungnya, kualitas kamera ponsel saat ini sudah sangat baik sehingga kami tetap bisa mengabadikan momen-momen indah sore itu. Meski sedikit kecewa, ternyata kejadian kecil seperti ini justru menjadi cerita yang akan selalu kami ingat di kemudian hari.

Senja yang Membuat Semua Orang Terdiam

Perlahan, matahari mulai turun menuju ufuk barat.

Langit berubah menjadi kanvas raksasa dengan gradasi jingga, emas, merah muda, hingga ungu yang begitu lembut. Cahaya keemasan memantul di permukaan laut, menciptakan pemandangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Kami hanya duduk memandanginya sejak awal hingga matahari benar-benar tenggelam.

Sesekali kami mengambil foto, tetapi lebih banyak menikmati momen itu dengan mata sendiri. Tidak semua keindahan harus selalu direkam. Beberapa di antaranya cukup disimpan di dalam ingatan.

Suasana di The Beach Love pun semakin ramai. Pengunjung terus berdatangan bahkan menjelang matahari benar-benar terbenam. Banyak di antara mereka yang akhirnya tidak kebagian tempat duduk karena seluruh area sudah penuh.

Beberapa harus rela berdiri, sementara yang lain menunggu kursi kosong agar bisa ikut menikmati keindahan senja dari tempat yang sama.

Pemandangan itu menjadi bukti bahwa The Beach Love memang bukan sekadar kafe biasa. Tempat ini telah menjadi salah satu destinasi favorit untuk menikmati sunset di Bali.

Penutup

Hari kedelapan di Bali kembali mengingatkan kami bahwa kebahagiaan sering kali hadir dari rangkaian momen sederhana. Sarapan bersama, bekerja dengan tenang, menikmati masakan rumahan yang penuh cinta, perjalanan menyusuri pedesaan Bali, hingga menyaksikan matahari tenggelam di salah satu sudut terindah Pulau Dewata.

Meski kamera utama menyerah karena baterainya habis, kami justru pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar foto beresolusi tinggi—sebuah pengalaman yang akan selalu kami kenang.

Karena pada akhirnya, matahari memang selalu terbenam setiap hari. Namun setiap senja selalu memiliki cerita yang berbeda bagi mereka yang bersedia berhenti sejenak untuk menikmatinya.

Kontak

Hubungi kami untuk cerita perjalanan seru

Email

mersa@explorasinegeri.com

© 2026. All rights reserved.